AI dan Masa Depan Industri Game, Bisa Buka Lapangan Kerja Baru?



Bandung

Kecerdasan Buatan (AI) ternyata tidak sepenuhnya menjadi sebuah ancaman. Kecanggihannya bisa dimanfaatkan supaya memberikan dampak yang positif. Mungkin salah satunya membuka lapangan kerja baru. Lho, kok bisa?

Hal itu mungkin tidak lagi hanya sebuah angan, tetapi bisa menjadi kenyataan. Sebab AI masih membutuhkan kontribusi manusia untuk membuatnya semakin pandai.

Chief Strategi Officer Agate, Cipto Adiguno, menyebutkan salah satunya ialah menjadi kreator untuk melatih AI. Jadi kreator ini tidak lagi membuat gambar atau asset lain untuk game yang sedang dikembangkan.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Soalnya sekarang AI itu ada prompt-nya. Prompt-nya itu tidak selalu pakai kata-kata, kadang-kadang prompt-nya itu pakai gambar. Dan mungkin yang diperlukan bukan butuh orang buat gambar hasil akhir, tapi yang bikin gambar atau bikin multiple prompt untuk melatih AI-nya,” kata Cipto kepada detikINET di Kantor Agate, Bandung, Selasa (16/1/2024).

Menurutnya AI ini hanya sebuah alat. Dirinya sangat percaya diri, kalau ke depannya teknologi ini akan berdampak positif, tergantung bagaimana orang-orang menggunakannya.

“Entah dia mempermudah proses development atau memungkinkan adanya tipe game baru yang sebelumnya nggak mungkin (ada),” jelasnya.

Cuma dirinya mengingatkan, bahwa sepertinya hal ini tidak bisa berjalan mulus. Artinya ada transisi yang harus dilewati, dan kemungkinan bakal ada penolakan. Kendati begitu Cipto yakin bahwa lima sampai sepuluh tahun lagi itu bisa tercapai.

Lanjut, ia menambahkan bahwa Agate sendiri sudah mencoba mengimplementasikan AI di beberapa game-nya. Hanya saja Cipto bilang, hasilnya sering kali tidak terlalu keliatan.

“Jadi itu sebenarnya hal yang bagus. Jadi nggak bisa dibedain mana yang sebenarnya ada campur tangan AI, ada yang nggak,” kata Cipto.

Cipto juga menjelaskan, bahwa Agate memanfaatkan AI untuk mencari referensi, atau mengubah format layar dari portrait ke landscape. Sambungnya, bahwa mereka melatih teknologi ini dengan gambar mereka sendiri, supaya formatnya dapat disesuaikan.

“Jadi, dia udah ngisi. Kita tinggal ubah-ubah dikit. Tapi ini lebih cepat,” jelasnya.

Meski AI begitu canggih, Cipto mengatakan tetap butuh waktu yang lama sampai teknologi ini bisa menggantikan manusia. Bahkan sebelum hal tersebut terjadi, pihaknya sudah mungkin bisa menggeser peran AI, sehingga orang-orang mengoperasikannya sebagai sebuah alat saja.

“Bukan lagi dia menjadi sesuatu yang menakutkan akan menggantikan, tetapi memang part of the process aja, part of tools yang dipakai,” pungkasnya.

Simak Video “Inovasi AI Mendominasi di Pameran Teknologi CES 2024
[Gambas:Video 20detik]

(hps/fay)

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *